Beristighfar menggeleng memikir sejenak,
Betape umat Islam semakin nazak,
Jikalau hukum tuhan mentah-mentah ditolak,
Apakah erti Islam di benak? Read the rest of this entry »
Archive for January, 2009
Pantun Sedikit
Posted by iorichee on 31 January 2009
Posted in Puisi | Leave a Comment »
Air Mata Di Malam Pertama
Posted by iorichee on 31 January 2009
Hatiku bercampur baur antara kegembiraan, kesedihan dan kehibaan. Terlalu sukar untuk kugambarkan perasaan hatiku tatkala ini. Sanak saudara duduk mengelilingiku sambil memerhatikan gerak geri seorang lelaki yang berhadapan dengan bapaku serta tuan imam. Read the rest of this entry »
Posted in Cerita @ cerpen | Leave a Comment »
Keje Kilang… Salahkah?
Posted by iorichee on 20 January 2009
Jgn pndg hina org keje kilang…….
dan jgn bezakan anak2
Selagi hayat ada …. Bahagiakan IBUBAPA Read the rest of this entry »
Posted in Cerita @ cerpen | 2 Comments »
Hanya satu citer…. ‘Jika tak dapat apa yang kita suka, belajarlah menyukai apa yg kita dapat… dan bersyukurlah dengan apa yang kita ada’
Posted by iorichee on 19 January 2009
Petang itu, pulang saja dari sekolah, ayah memanggil kami berdua. Dia meminta aku dan adik berdiri di tepi dinding. Aku menggeletar melihat rotan panjang sedepa di tangan ayah.
“Siapa ambil duit ayah?” tanya ayah bagai singa lapar.
Aku langsung tidak berdaya menentang renungan tajam mata ayah. Kedua-dua kami membisu,cuma tunduk memandang lantai.
“Baik, kalau tak mengaku, dua- dua ayah rotan!” sambung ayah sambil mengangkat tangan untuk melepaskan pukulan sulungnya ke belakang aku.
Tiba-tiba, adik menangkap tangan ayah dengan kedua-dua belah tangannya sambil berkata,
“Saya yang ambil!” Belum sempat adik menarik nafas selepas mengungkapkan kata-kata itu, hayunan dan balunan silih berganti menghentam tubuh adik.
Posted in Cerita @ cerpen | Leave a Comment »
Such a Coward
Posted by iorichee on 18 January 2009
Hhmmm….
Why I can’t just say it
Such a coward man…..
Posted in Hatiku... | Leave a Comment »
Aku,Kau dan Kita Hanyalah Insan Biasa….
Posted by iorichee on 15 January 2009
jap ehh…
Posted in Puisi | Leave a Comment »
Tolong la Ingatkan Aku
Posted by iorichee on 15 January 2009
…Tolong ingatkan aku…
…Andai aku lupakan Tuhan…
…Dalam kelapangan dan kesibukan…
…Dalam kesenangan dan kesusahan…
…Tolong ingatkan aku…
…Jangan jadi anak durhaka…
…Ibubapa jangan sampai dilupakan…
usah melukai hati dan perasaan mereka…
…Tolong ingatkan aku…
…Supaya ingat pesan guru…
…Bukan sekadar ingatan…
…Tapi tarbiyyah berpanjangan…
…Tolong ingatkan aku…
…Dengarlah dan bacalah AlQuran…
…ketika radio penuh hiburan…
…ketika TV penuh Hindustan…
…Tolong ingatkan aku…
…Dimana Islamnya akhirku…
…Jika yang dicari keredhaan manusia…
…bukan keredhaan tuhan yg Esa…
…Tolong ingatkan aku…
…Jadilah sahabat yang baik…
…Senantiasa memberi peringatan…
…Senantiasa menerima teguran…
…Tolong ingatkan aku…
…Kalau bercinta hanya karena-Nya…
…Dalam memilih isteri utamakan iman…
…Kelak ikatan dihindari syaitan…
…Tolong ingatkan aku…
…Hidup ini satu kembara…
…Kutiplah mutiara dalam perjalanan…
…Moga di sana menjadi bekal…
…Tolong ingatkan aku…
…Diri ini milik Yang Kuasa…
…Kepada-Nya diserahkan jiwa…
…Segala-Nya Dialah tumpuan…
…Tolonglah ya…
Posted in Puisi | 1 Comment »
Kesatlah Air Mata Mu Wahai Wanita….
Posted by iorichee on 15 January 2009
Cerita ini agak menarik untuk dibaca. Namun mungkin ada para pembaca akan merasa sedikit tak berapa selesa dengan isi cerita ini. Cerita ini tiada kaitan sama ada yang hidup mahupon sudah meninggal dunia. Cerita ini di”copy” dari blog orang lain. Untuk mengisi masa lapang. Sila nikmati cerita yang tadak seberapa ini……
“Apabila hati terikat dengan Allah, kembalilah wanita dengan asal fitrah kejadiannya, menyejukkan hati dan menjadi perhiasan kepada dunia – si gadis dengan sifat sopan dan malu, anak yang taat kepada ibu bapa, isteri yang menyerahkan kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya pada suami.“
Bait-bait kata itu aku tatapi dalam-dalam. Penuh penghayatan. Kata-kata yang dinukilkan dalam sebuah majalah yang ku baca. Alangkah indahnya jika aku bisa menjadi perhiasan dunia seperti yang dikatakan itu. Ku bulatkan tekad di hatiku. Aku ingin menjadi seorang gadis yang sopan, anak yang taat kepada ibu bapaku dan aku jua ingin menjadi seorang isteri yang menyerahkan kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya untuk suami, kerana Allah.
Menjadi seorang isteri….kepada insan yang disayangi…..idaman setiap wanita. Alhamdulillah, kesyukuran aku panjatkan ke hadrat Ilahi atas nikmat yang dikurniakan kepadaku.
Baru petang tadi, aku sah menjadi seorang isteri setelah mengikat tali pertunangan 6 bulan yang lalu. Suamiku, Muhammad Harris, alhamdulillah menepati ciri-ciri seorang muslim yang baik. Aku berazam untuk menjadi isteri yang sebaik mungkin kepadanya.
Posted in Cerita @ cerpen | Leave a Comment »
Mandikan Aku Bonda……
Posted by iorichee on 15 January 2009
Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis. Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya… .
Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademik maupun profesion yang akan diceburinya. ”Why not the best,” katanya selalu, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universiti menghantar mahasiswa untuk studi International Law di Universiteit Utrecht , Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menyelesaikan pendidikan kedoktoran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ”selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesion.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani dilantik sebagai staf diplomat, bertepatan dengan selesainya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, hampir setiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.
Sebenarnya saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan pantas Rani menjawab, ”Oh, saya sudah mengandaikan segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Layanan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter “mahal”. Rani cuma mengawal jadual Alif melalui telefon. Alif membesar menjadi anak yang kelihatan lincah, cerdas dan mudah mengerti.
Nenek-neneknya selalu menonjolkan kebanggaan mereka kepada cucu yang amat dikasihi itu, tentang kehebatan ibu-bapanya. Tentang jawatan dan nama besar, tentang kekerapan menaiki pesawat, dan wan g yang banyak. ”Contohlah ayah-bonda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibu Rani, berpesan di akhir cerita sebelum tidurnya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Sungguh anak kecil ini “memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karaktor ibunya yang bukan perengek.
Meski kedua orangtuanya kerap pulang lewat, ia jarang sekali merungut.Bahkan, kata Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ”malaikat kecilku”.
Sungguh keluarga yang bahagia, fikir saya. Meskipun kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap membesar penuh cinta. Diam-diam, saya irihati pada keluarga ini. Suatu hari, sebelum Rani berangkat ke pejabat, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. “Alif ingin Bonda mandikan”, ujarnya penuh harapan. Serba salah saja Rani, yang setiap detik waktunya sangat berharga, gusar. Ia menolek permintaan Alif sambil terus berdandan dan mempersiapkan keperluan pejabatnya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya.
Sesungguhnya, Alif mengerti dan menurut, meskipun wajahnya berkerut. Peristiwa ini berulang sampai hampir seminggu. ”Bonda, mandikan aku!” kian lama suara Alif penuh tekanan. Lalu, Rani dan suaminya berfikir, mungkin itu kerana Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dipujuk-pujuk, akhirnya Alif dapat ditinggal juga.
Pada satu petang, saya dikejutkan oleh telefon Mien, si baby sitter. ‘Puan doktor, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.” Dengan pantas, saya terus ke ICU. But it was too late. Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, telah dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu tentang Alif, sedang meresmikan pejabat barunya. Ia sangat terperanjat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah seminggu Alif mula menuntut dimandikan, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu masa memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terkabul, meskipun setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ”Ini Bonda Lif, Bonda mandikan Alif,” ucapnya lemah, di tengah-tangah jamaah yang sunyi. Satu persatu rakan Rani menjauhi dari sisinya, berusaha menyembunyikan tangisan.
Ketika tanah merah telah menutup jasad si kecil, kami masih berdiri di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan . Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah masanya, ia dia pergi juga kan ?” Saya diam saja.
Rasanya Rani memang tak memerlukan hiburan dari orang lain. Suaminya tegak seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat, pandangannya kosong. “Ini konsekuensi dari sebuah pilihan,” ujar Rani, tetap mencuba tegar dan kuat. Hening seketika. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. “Aku ibunyaaa!” teriaknya seperti histeria, lalu meraung hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih lagi tangisan yang meledak. “Bangunlah Lif, Bonda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bonda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..” Rani merintih merayu-hiba. Seketika kemudian, ia mencampakkan dirinya ke pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
– Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi dapat menolongnya. — Hal yang nampaknya mudah sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat. — Sering kali orang yang sibuk ‘di luar’, asik dengan dunianya dan ambition sendiri hingga mengabaikan orang-orang disampingnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan saja dulu. — Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahawa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti kerana mereka menyayanginya dan tetap akan ada. — Pelajaran yang sangat menyedihkan.
Semoga yang membacanya dapat mengambil iktibar yang terkandung dalam kisah tersebut. .
Posted in Cerita @ cerpen | Leave a Comment »
